Sabtu, 03 September 2016

Selamanya Bersamamu

          Kelanjutan dari cerbung Selamanya Bersamamu ..

          Terlihat di kursi belakangku,Dera memperhatikan langkah kakiku.Sesekali ia membetulkan kacamatanya itu.Aku pun berjalan perlahan mendekat ke kursiku.”Sepi banget sih..”gumamku.Memang pagi itu belum banyak orang yang datang,nggak seperti kemarin yang pada siap buat rebutan kursi belakang.Satu hal yang masih membuatku memikirkan kejadian kemarin sore.Kenapa Dera bisa ada di sana?.Itulah pertanyaan muncul dalam benaku setelah kejadian itu.”Lo udah mendingan belum?”tanya Dera dengan tiba-tiba.”Udah.”jawabku ketus tanpa melihatnya.Sebenarnya aku sama sekali nggak marah karena kejadian itu.Tetapi,aku hanya merasa malas untuk menanggapi pertanyaan dari seorang Dera.Belum lagi rasa perih di lutuku yang samar-samar masih kurasakan.”Yaudah kalo gitu.”katanya singkat.Meskipun aku nggak lihat wajah Dera,tetapi aku bisa merasakan dari ucapannya kalau dia kesal atas jawabanku tadi.

“Teet”bel istirahat berbunyi.Aku tetap tinggal di kelas.Untuk mengusir kebosanan,aku mengambil sebuah novel dari dalam tasku dan mulai membacanya.Belum sempat aku membalikan halaman novel itu,terdengar teriakan seseorang yang kukenali.Aku menoleh ke arah luar kelas untuk memastikan siapa yang telah memanggilku tadi.Ternyata Ana yang datang ke kelasku.”Ana,tumben kamu ke sini..Gea-nya mana?”tanyaku sambil melambaikan tangan kepadanya.Ana mengambil duduk di sebelah kananku.”Gea tadi masih di kelas.Kayaknya dia belum ngerjain PR tuh..”katanya,aku terkekeh mendengar jawaban Ana.Ana Febiana sahabatku juga.Dia orangnya smart thinking dan bijaksana.Kalau ada perseteruan antara aku dan Gea,pasti dia yang jadi penengahnya.Kami bertiga sering jalan bareng.Malam minggu adalah jadwal yang paling full buat kita keluar atau sekedar menghabiskan waktu bersama.Karena kami bertiga masih menyandang gelar the jomblo sejati.”Gimana luka di lututmu?”tanya Ana menghentikan bayanganku melihat Gea yang masih bingung mengerjakan PR.”Udah mendingan kok.Meskipun agak perih sih ..”kalimat terakhir itu sengaja kuucapkan agak keras agar Dera yang sedang membaca buku di belakang mendengar sindiranku.Kami pun melanjutkan perbincangan hingga bel tanda istirahat berakhir terdengar.”Bi,aku balik ke kelas dulu ya .. Good well soon ..”kata Ana yang perlahan langkahnya menghilang dari hadapanku.

Pulang sekolah secepatnya adalah hal yang aku inginkan hari ini.Aku membayangkan bagaimana nanti aku pulang jika papaku nggak bisa jemput secepatnya.Beliau tadi berpesan kepadaku Nanti Papa jemput kamu agak telat nggak apa-apa kan sayang?.Belum sempat aku mengiyakan Papaku langsung masuk ke mobil.”Binta,kamu perhatikan saya apa tidak?”pertanyaan itu membuatku sadar dari lamunanku.Terlihat air muka guruku sangat menakutkan.Aku pun langsung membuka bukuku yang tadi sempat kututup.Semua mata tertuju kepadaku.Ah,kenapa aku bisa melamun begini sih...”Maaf,Bu..”kataku. Kuperhatikan penjelasan Bu Guru sambil menatap tajam papan tulis yang penuh angka itu,dan sesekali aku melirik jam tangan yang melingkar di tangan kananku.Yes,4 menit lagi pulang.. “Teet Teet”bel yang kutunggu pun berbunyi menandakan jam pembelajaran hari ini telah usai.” Silahkan kemasi barang-barang kalian.”perintah Bu Guru.”Selamat siang.”.Aku mengemasi buku-bukuku dan bergegas keluar dari kelas.”Mau kubantu Bi?”tanya Vira.”Nggak perlu Vi,aku bisa sendiri kok.Makasih ya..”kataku menolak.Aku pun menuruni satu per satu anak tangga dengan hati-hati.Saat berjalan di halaman aku mencoba mencari keberadaan salah satu dari sahabatku.Kemana sih mereka?.


Cuaca hari ini sedang tidak bersahabat denganku.Akupun memutuskan untuk keluar dan menunggu di depan gerbang sekolah,berharap  Papaku sudah menjemputku atau salah satu dari kedua sahabatku berada di sana.”Kamu tau Gea sama Ana nggak?”tanyaku kepada setiap orang yang kutemui di sana.Tetapi tak satupun dari mereka yang tahu keberadaan sahabatku.Awan yang tadi putih berubah menjadi sedikit gelap menandakan hujan akan turun.Aku hanya berdiri di trotoar berharap Papaku segera menjemputku.Kuperhatikan dari arah dalam gerbang,Dera menaiki sepedanya.Dia langsung mengayuh sepedanya mendekatiku.”Bi,lo mau gue anterin nggak?”tanyanya.”Nggak perlu,gue nunggu jemputan bokap aja.”kataku.”Ayolah,Bi..Ini sebagai tanda minta maaf gue ke lo soal kejadian kemarin.”katanya meyakinkanku.Aku menolak dan terus menolaknya,tetapi dia tetap membujuku.”Lagian udah mau hujan nih..”belum sempat dia melanjutkan kalimatnya dan entah apa yang kupikirkan,aku mau menerima tawaran dari Dera.Kenapa sih nih mulut sama otak nggak pernah bener? .”Buruan naik,kenapa malah bengong sih lo!”kata Dera mencairkan keadaanku yang masih berdiri seperti patung.Aku bergegas naik ke sadel belakang sepeda Dera.Dia mulai mengayuh sepedanya.”Lo berat juga ya..haha”ejek Dera.Mulutku reflek manyun dan aku memukul punggung Dera sampai dia meringis kesakitan.Rasain lo,siapa suruh ngatain gue berat.