Kelanjutan dari cerbung Selamanya Bersamamu ..
Terlihat di kursi
belakangku,Dera memperhatikan langkah kakiku.Sesekali ia membetulkan
kacamatanya itu.Aku pun berjalan perlahan mendekat ke kursiku.”Sepi banget
sih..”gumamku.Memang pagi itu belum banyak orang yang datang,nggak seperti kemarin yang pada siap
buat rebutan kursi belakang.Satu hal yang masih membuatku memikirkan kejadian
kemarin sore.Kenapa Dera bisa ada di
sana?.Itulah pertanyaan muncul dalam benaku setelah kejadian itu.”Lo udah
mendingan belum?”tanya Dera dengan tiba-tiba.”Udah.”jawabku ketus tanpa
melihatnya.Sebenarnya aku sama sekali nggak marah karena kejadian itu.Tetapi,aku
hanya merasa malas untuk menanggapi pertanyaan dari seorang Dera.Belum lagi
rasa perih di lutuku yang samar-samar masih kurasakan.”Yaudah kalo
gitu.”katanya singkat.Meskipun aku nggak
lihat wajah Dera,tetapi aku bisa merasakan dari ucapannya kalau dia kesal atas
jawabanku tadi.
“Teet”bel
istirahat berbunyi.Aku tetap tinggal di kelas.Untuk mengusir kebosanan,aku
mengambil sebuah novel dari dalam tasku dan mulai membacanya.Belum sempat aku
membalikan halaman novel itu,terdengar teriakan seseorang yang kukenali.Aku
menoleh ke arah luar kelas untuk memastikan siapa yang telah memanggilku
tadi.Ternyata Ana yang datang ke kelasku.”Ana,tumben kamu ke sini..Gea-nya mana?”tanyaku sambil melambaikan
tangan kepadanya.Ana mengambil duduk di sebelah kananku.”Gea tadi masih di
kelas.Kayaknya dia belum ngerjain PR tuh..”katanya,aku terkekeh mendengar
jawaban Ana.Ana Febiana sahabatku juga.Dia orangnya smart thinking dan bijaksana.Kalau ada perseteruan antara aku dan
Gea,pasti dia yang jadi penengahnya.Kami bertiga sering jalan bareng.Malam
minggu adalah jadwal yang paling full
buat kita keluar atau sekedar menghabiskan waktu bersama.Karena kami bertiga
masih menyandang gelar the jomblo sejati.”Gimana luka di
lututmu?”tanya Ana menghentikan bayanganku melihat Gea yang masih bingung
mengerjakan PR.”Udah mendingan kok.Meskipun
agak perih sih ..”kalimat terakhir
itu sengaja kuucapkan agak keras agar Dera yang sedang membaca buku di belakang
mendengar sindiranku.Kami pun melanjutkan perbincangan hingga bel tanda
istirahat berakhir terdengar.”Bi,aku balik ke kelas dulu ya .. Good well soon ..”kata Ana yang perlahan
langkahnya menghilang dari hadapanku.
Pulang
sekolah secepatnya adalah hal yang aku inginkan hari ini.Aku membayangkan
bagaimana nanti aku pulang jika papaku nggak bisa jemput secepatnya.Beliau tadi
berpesan kepadaku Nanti Papa jemput kamu
agak telat nggak apa-apa kan sayang?.Belum sempat aku mengiyakan Papaku
langsung masuk ke mobil.”Binta,kamu perhatikan saya apa tidak?”pertanyaan itu
membuatku sadar dari lamunanku.Terlihat air muka guruku sangat menakutkan.Aku
pun langsung membuka bukuku yang tadi sempat kututup.Semua mata tertuju
kepadaku.Ah,kenapa aku bisa melamun begini
sih...”Maaf,Bu..”kataku. Kuperhatikan penjelasan Bu Guru sambil menatap
tajam papan tulis yang penuh angka itu,dan sesekali aku melirik jam tangan yang
melingkar di tangan kananku.Yes,4 menit
lagi pulang.. “Teet Teet”bel yang kutunggu pun berbunyi menandakan jam
pembelajaran hari ini telah usai.” Silahkan kemasi barang-barang
kalian.”perintah Bu Guru.”Selamat siang.”.Aku mengemasi buku-bukuku dan
bergegas keluar dari kelas.”Mau kubantu Bi?”tanya Vira.”Nggak perlu Vi,aku bisa sendiri kok.Makasih
ya..”kataku menolak.Aku pun menuruni satu per satu anak tangga dengan
hati-hati.Saat berjalan di halaman aku mencoba mencari keberadaan salah satu
dari sahabatku.Kemana sih mereka?.
Cuaca
hari ini sedang tidak bersahabat denganku.Akupun memutuskan untuk keluar dan
menunggu di depan gerbang sekolah,berharap
Papaku sudah menjemputku atau salah satu dari kedua sahabatku berada di
sana.”Kamu tau Gea sama Ana nggak?”tanyaku kepada setiap orang yang kutemui di
sana.Tetapi tak satupun dari mereka yang tahu keberadaan sahabatku.Awan yang
tadi putih berubah menjadi sedikit gelap menandakan hujan akan turun.Aku hanya
berdiri di trotoar berharap Papaku segera menjemputku.Kuperhatikan dari arah
dalam gerbang,Dera menaiki sepedanya.Dia langsung mengayuh sepedanya
mendekatiku.”Bi,lo mau gue anterin nggak?”tanyanya.”Nggak perlu,gue nunggu jemputan bokap aja.”kataku.”Ayolah,Bi..Ini
sebagai tanda minta maaf gue ke lo soal kejadian kemarin.”katanya
meyakinkanku.Aku menolak dan terus menolaknya,tetapi dia tetap
membujuku.”Lagian udah mau hujan nih..”belum
sempat dia melanjutkan kalimatnya dan entah apa yang kupikirkan,aku mau
menerima tawaran dari Dera.Kenapa sih nih
mulut sama otak nggak pernah bener? .”Buruan naik,kenapa malah bengong sih
lo!”kata Dera mencairkan keadaanku yang masih berdiri seperti patung.Aku
bergegas naik ke sadel belakang sepeda Dera.Dia mulai mengayuh sepedanya.”Lo
berat juga ya..haha”ejek Dera.Mulutku reflek manyun dan aku memukul punggung
Dera sampai dia meringis kesakitan.Rasain
lo,siapa suruh ngatain gue berat.