Senin, 30 Januari 2017

Cerbung Part 4

Selamanya Bersamamu


Ketika berada di pertengahan jalan, kurasakan tetes air jatuh membasahi wajahku. ”De..De..Kayanya hujan nih..,”katakku panik. Dera hanya diam saja dan mengayuh sepedanya lebih cepat. Mungkin karena Dera mengayuh sepedanya terlalu kencang, aku tidak sengaja memeluknya. Ketika aku menyadarinya kulepaskan pelukan itu, tetapi Dera menyuruhku untuk berpegangan. Ku lingkarkan lagi tanganku di pinggangnya saat tetes-tetes air berubah menjadi gerimis. Kami mulai basah udara juga semakin dingin. ”Cari tempat teduh aja.. Gue nggak mau lo nanti sakit,”kata Dera sedikit berteriak. Dera menghentikan laju sepedanya dan langsung memasuki halaman toko yang tidak terlalu luas itu. Aku turun dari sepedanya dan berlari ke teras toko. Aku dan Dera berteduh di depan sebuah toko kelontong yang tidak terlalu luas, tetapi cukup untuk dibuat berteduh dua orang seperti kami.

Basah kuyup dan udara dingin sangat harmoni membuat tubuhku sedikit menggigil kedinginan. Sambil kupeluk sendiri tubuh kecilku ini, kuedarkan pandangan ke semua sudut jalanan, berharap Papaku datang menjemputku atau ada seorang pangeran tampan yang berbaik hati meminjamkan jas-nya untuku. Dera hanya terdiam duduk di samping kiriku. Kuperhatikan wajahnya yang basah dan kacamatanya yang sedikit mengembun. Aku bergegas mengambil sapu tangan yang kubawa di tas dan menyeka wajahnya yang basah itu. Terlihat air muka Dera sedikit terkejut.
Aduh,kenapa aku melakukan ini?
            “Perhatian banget lo,Bi,”katanya setelah itu. ”Ih..apaan sih De..Jangan Ge-Er lo,”kataku sangsi memukul lengannya. Kami pun tertawa, dan kudengar tawa Dera yang renyah dan lepas membuat bibirku tersenyum simpul.

            Hujan tak kunjung berhenti membuat kami semakin cemas. Kulirik jam tangan yang menunjuk ke angka 3 lebih 10 menit. Udah sejam kok nggak berhenti sih hujan.. Sesaat kami hanya terdiam sambil  menyaksikan ke Agungan Tuhan melalui hujan deras yang tak kunjung reda ini. Sesekali mata kami saling bertemu membuat gelak tawa tak dapat terelakkan. “Apa liat-liat?” tanyanya sambil menyipitkan mata. “Apaan sih, liat kacamata lo ngembun kaya tuh,” ujarku sedikit berteriak. Tawaku pun pecah ketika Dera melepas kacamatanya. Dia terlihat aneh. Ya, memang terlihat lebih berbeda. “ Nih sapu tangan.”kataku memberikan sapu tangan yang sedari tadi kugenggam. Dera mulai membersihkan atau lebih tepatnya mengelap kacamatanya itu.

            “Gue minta maaf soal kejadian kemarin sore yang nyebabin lutut lo lecet kaya gitu,”ucapnya memecah keheningan. Hanya anggukan kepala saja dariku yang membuatnya terus mengatakan hal yang sama. “Nggak apa-apa kok. Maaf diterima,” tukasku meringis. Saat itu aku teringat tentang pertanyaan yang sempat menghantui pikiranku setelah kejadian itu. Namun, aku ragu untuk bertanya kepadanya. “Dera,”panggilku kikuk. “Lo kemarin kok bisa sampai ke kompleks perumahan gue gimana sih ceritanya?”tanyaku. Terlihat dia sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya seakan-akan mengabaikan pertanyaanku. “ Kompleks perumahan lo?”tanyanya mengernyitkan kening. “ Maksud gue kompleks perumahan yang gue tinggalin.” tanganku ikut bergerak menjelaskan. “Gue tinggal di situ juga kali. Gue baru pindah rumah jadi waktu itu gue nyoba keliling  jalanan  kompleks.”jelasnya sambi memakai kacamatanya. “Eh taunya ketemu sama makhluk kaya elo. Hahahaha,”tawanya yang renyah itu kembali meramaikan keadaan. Aku mencoba memukul lengannya itu, tetapi ia segera menghindar keluar teras toko. Sepertinya ia menikmati hujan ini. Tangan kanannya menengadah hujan yang   masih deras itu. Sesekali Dera mencoba memercikkan air ke arahku. “De, gue nyusul,”kataku. Dia terlihat asyik dengan hujan, sehingga terkejut ketika aku sudah berada tepat di samping kirinya. “Lo kaya anak kecil tau,”ejekku. Dia sama sekali tak tertarik untuk menanggapi ejekkan itu. Bahkan Dera semakin asyik bermain air hujan yang mulai reda itu.


            “Eh, mulai reda nih hujan,”katanya mengagetkanku. Sedari tadi memperhatikan tingkahnya bermain hujan membuatku sedikit melamun. Tanpa ada sepatah kata pun, aku langsung menghampiri sepedanya. “Bukk.. Bukk,”kupukul sedal sepedanya cukup keras. Sepertinya ia tahu apa yang kumaksudkan. “Apa? Lo mau pulang sekarang? Emang lo nggak liat kalau masih gerimis?” ocehnya panjang. Yang ku tahu dari luar itu Dera orangnya pendiam. Tetapi, sekarang pepatah Don’t judge a book by its cover sepertinya berlaku untuknya. “Ah, nggak apa-apa keleus. Lagian, besok seragamnya nggak dipake juga,”kataku. Tanpa pikir panjang, Dera langsung mengeluarkan sepedanya dari teras toko. Segera ku dudukan tubuhku di sadel belakangnya. “Are you ready?” teriak Dera sambil cekikikan. “I’m ready boss,” teriakku. Kami pun mulai membelah gerimis hujan. Memang Dera nyebelin banget, tetapi ternyata dia juga seru orangnya. Sesekali kami bercanda ketika dia mengayuhnya dengan pelan. Tawa yang lepas bersamaan hujan yang masih menetes membuat  keadaan semakin ramai, meskipun hanya kami berdua saja yang berlalu lalang. 

               Akhirnya, kami mulai sampai di kompleks perumahan. “Rumah lo blok apa sih?” tanyaku. “Blok B 14.”katanya singkat. Yang ku tahu, rumahku tak jauh dari bloknya. Lebih tepatnya beberapa rumah saja atau bahkan lebih dekat dari warung yang kemarin. “Stop... Stop,” kataku setengah berteriak. “ Kenapa lagi sih lo?” gerutunya. “Ini rumah gue De,” kataku sambil menunjuk sebuah rumah cat hijau menghadap ke selatan. “Berarti, kita tetangga se-blok?” ucapnya asal. Aku hanya menanggukkan kepala. “Oh, tidak.”ujarnya. “Berarti gue bakalan ketemu makhluk kaya elo setiap hari dong?”keluhnya yang reflek membuat tanganku menjitak kepalanya. Aku pun segera turun dari sepedanya. Saat itu juga mamaku keluar dan melihatku yang basah kuyup. “Astaga Binta. Kamu basah kuyup, udara dingin tau.” Omel mama. “Ya tante. Dibilangin kalau masih hujan nggak nurut,” dasar Dera tukang kompor. “Oh gitu. Makasih ya dek. Ayo masuk dulu.” Ucap mamaku. Aku yang memeperhatikan mereka berdua merasa kalau mereka adalah satu jenis orang yang nyebelin. “Nggak usah masuk. Awas ya lo,” bisikku sambil mengepal jari. “Nggak usah repot tante. Lagian sama Binta juga nggak diijini.” Cengengesnya. Dasar ni anak, sontak mamaku langsung menunjukkan air muka yang sangat menakutkan . “Makasih tante, saya buru-buru. Lagian sekarang udah sore. Mari te,” katanya sok manis. “Hati-hati ya,”ucap mamaku. Kemudian aku bergegas masuk rumah. Bersiap untuk mandi, dan makan siang yang sebenarnya makan sore. Singkat kata, hari ini penuh dengan kejadian aneh dan tak terduga dari seorang Dera.


To be continued ,,