Selamanya Bersamamu
Ketika
berada di pertengahan jalan, kurasakan tetes air jatuh membasahi wajahku.
”De..De..Kayanya hujan nih..,”katakku panik. Dera hanya diam saja dan mengayuh
sepedanya lebih cepat. Mungkin karena Dera mengayuh sepedanya terlalu kencang,
aku tidak sengaja memeluknya. Ketika aku menyadarinya kulepaskan pelukan itu,
tetapi Dera menyuruhku untuk berpegangan. Ku lingkarkan lagi tanganku di
pinggangnya saat tetes-tetes air berubah menjadi gerimis. Kami mulai basah
udara juga semakin dingin. ”Cari tempat teduh aja.. Gue nggak mau lo nanti
sakit,”kata Dera sedikit berteriak. Dera menghentikan laju sepedanya dan
langsung memasuki halaman toko yang tidak terlalu luas itu. Aku turun dari
sepedanya dan berlari ke teras toko. Aku dan Dera berteduh di depan sebuah toko
kelontong yang tidak terlalu luas, tetapi cukup untuk dibuat berteduh dua orang
seperti kami.
Basah
kuyup dan udara dingin sangat harmoni membuat tubuhku sedikit menggigil
kedinginan. Sambil kupeluk sendiri tubuh kecilku ini, kuedarkan pandangan ke
semua sudut jalanan, berharap Papaku datang menjemputku atau ada seorang
pangeran tampan yang berbaik hati meminjamkan jas-nya untuku. Dera hanya
terdiam duduk di samping kiriku. Kuperhatikan wajahnya yang basah dan kacamatanya
yang sedikit mengembun. Aku bergegas mengambil sapu tangan yang kubawa di tas
dan menyeka wajahnya yang basah itu. Terlihat air muka Dera sedikit terkejut.
Aduh,kenapa aku melakukan ini?
“Perhatian banget lo,Bi,”katanya
setelah itu. ”Ih..apaan sih De..Jangan Ge-Er lo,”kataku sangsi memukul lengannya.
Kami pun tertawa, dan kudengar tawa Dera yang renyah dan lepas membuat bibirku
tersenyum simpul.
Hujan tak kunjung berhenti membuat
kami semakin cemas. Kulirik jam tangan yang menunjuk ke angka 3 lebih 10 menit.
Udah sejam kok nggak berhenti sih hujan.. Sesaat kami hanya terdiam sambil menyaksikan ke Agungan Tuhan melalui hujan
deras yang tak kunjung reda ini. Sesekali mata kami saling bertemu membuat
gelak tawa tak dapat terelakkan. “Apa liat-liat?” tanyanya sambil menyipitkan
mata. “Apaan sih, liat kacamata lo ngembun kaya tuh,” ujarku sedikit berteriak.
Tawaku pun pecah ketika Dera melepas kacamatanya. Dia terlihat aneh. Ya, memang
terlihat lebih berbeda. “ Nih sapu tangan.”kataku memberikan sapu tangan yang
sedari tadi kugenggam. Dera mulai membersihkan atau lebih tepatnya mengelap
kacamatanya itu.
“Gue minta maaf soal kejadian
kemarin sore yang nyebabin lutut lo lecet kaya gitu,”ucapnya memecah keheningan.
Hanya anggukan kepala saja dariku yang membuatnya terus mengatakan hal yang
sama. “Nggak apa-apa kok. Maaf diterima,” tukasku meringis. Saat itu aku
teringat tentang pertanyaan yang sempat menghantui pikiranku setelah kejadian
itu. Namun, aku ragu untuk bertanya kepadanya. “Dera,”panggilku kikuk. “Lo
kemarin kok bisa sampai ke kompleks perumahan gue gimana sih ceritanya?”tanyaku.
Terlihat dia sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya seakan-akan mengabaikan
pertanyaanku. “ Kompleks perumahan lo?”tanyanya mengernyitkan kening. “ Maksud
gue kompleks perumahan yang gue tinggalin.” tanganku ikut bergerak menjelaskan.
“Gue tinggal di situ juga kali. Gue baru pindah rumah jadi waktu itu gue nyoba
keliling jalanan kompleks.”jelasnya sambi memakai kacamatanya.
“Eh taunya ketemu sama makhluk kaya elo. Hahahaha,”tawanya yang renyah itu
kembali meramaikan keadaan. Aku mencoba memukul lengannya itu, tetapi ia segera
menghindar keluar teras toko. Sepertinya ia menikmati hujan ini. Tangan
kanannya menengadah hujan yang masih
deras itu. Sesekali Dera mencoba memercikkan air ke arahku. “De, gue nyusul,”kataku.
Dia terlihat asyik dengan hujan, sehingga terkejut ketika aku sudah berada
tepat di samping kirinya. “Lo kaya anak kecil tau,”ejekku. Dia sama sekali tak
tertarik untuk menanggapi ejekkan itu. Bahkan Dera semakin asyik bermain air
hujan yang mulai reda itu.
“Eh, mulai reda nih hujan,”katanya
mengagetkanku. Sedari tadi memperhatikan tingkahnya bermain hujan membuatku
sedikit melamun. Tanpa ada sepatah kata pun, aku langsung menghampiri
sepedanya. “Bukk.. Bukk,”kupukul sedal sepedanya cukup keras. Sepertinya ia
tahu apa yang kumaksudkan. “Apa? Lo mau pulang sekarang? Emang lo nggak liat
kalau masih gerimis?” ocehnya panjang. Yang ku tahu dari luar itu Dera orangnya
pendiam. Tetapi, sekarang pepatah Don’t
judge a book by its cover sepertinya berlaku untuknya. “Ah, nggak apa-apa
keleus. Lagian, besok seragamnya nggak dipake juga,”kataku. Tanpa pikir
panjang, Dera langsung mengeluarkan sepedanya dari teras toko. Segera ku
dudukan tubuhku di sadel belakangnya. “Are you ready?” teriak Dera sambil
cekikikan. “I’m ready boss,” teriakku. Kami pun mulai membelah gerimis hujan.
Memang Dera nyebelin banget, tetapi ternyata dia juga seru orangnya. Sesekali
kami bercanda ketika dia mengayuhnya dengan pelan. Tawa yang lepas bersamaan
hujan yang masih menetes membuat keadaan
semakin ramai, meskipun hanya kami berdua saja yang berlalu lalang.
Akhirnya, kami mulai sampai di kompleks perumahan. “Rumah lo blok apa sih?” tanyaku. “Blok B 14.”katanya singkat. Yang ku tahu, rumahku tak jauh dari bloknya. Lebih tepatnya beberapa rumah saja atau bahkan lebih dekat dari warung yang kemarin. “Stop... Stop,” kataku setengah berteriak. “ Kenapa lagi sih lo?” gerutunya. “Ini rumah gue De,” kataku sambil menunjuk sebuah rumah cat hijau menghadap ke selatan. “Berarti, kita tetangga se-blok?” ucapnya asal. Aku hanya menanggukkan kepala. “Oh, tidak.”ujarnya. “Berarti gue bakalan ketemu makhluk kaya elo setiap hari dong?”keluhnya yang reflek membuat tanganku menjitak kepalanya. Aku pun segera turun dari sepedanya. Saat itu juga mamaku keluar dan melihatku yang basah kuyup. “Astaga Binta. Kamu basah kuyup, udara dingin tau.” Omel mama. “Ya tante. Dibilangin kalau masih hujan nggak nurut,” dasar Dera tukang kompor. “Oh gitu. Makasih ya dek. Ayo masuk dulu.” Ucap mamaku. Aku yang memeperhatikan mereka berdua merasa kalau mereka adalah satu jenis orang yang nyebelin. “Nggak usah masuk. Awas ya lo,” bisikku sambil mengepal jari. “Nggak usah repot tante. Lagian sama Binta juga nggak diijini.” Cengengesnya. Dasar ni anak, sontak mamaku langsung menunjukkan air muka yang sangat menakutkan . “Makasih tante, saya buru-buru. Lagian sekarang udah sore. Mari te,” katanya sok manis. “Hati-hati ya,”ucap mamaku. Kemudian aku bergegas masuk rumah. Bersiap untuk mandi, dan makan siang yang sebenarnya makan sore. Singkat kata, hari ini penuh dengan kejadian aneh dan tak terduga dari seorang Dera.
Akhirnya, kami mulai sampai di kompleks perumahan. “Rumah lo blok apa sih?” tanyaku. “Blok B 14.”katanya singkat. Yang ku tahu, rumahku tak jauh dari bloknya. Lebih tepatnya beberapa rumah saja atau bahkan lebih dekat dari warung yang kemarin. “Stop... Stop,” kataku setengah berteriak. “ Kenapa lagi sih lo?” gerutunya. “Ini rumah gue De,” kataku sambil menunjuk sebuah rumah cat hijau menghadap ke selatan. “Berarti, kita tetangga se-blok?” ucapnya asal. Aku hanya menanggukkan kepala. “Oh, tidak.”ujarnya. “Berarti gue bakalan ketemu makhluk kaya elo setiap hari dong?”keluhnya yang reflek membuat tanganku menjitak kepalanya. Aku pun segera turun dari sepedanya. Saat itu juga mamaku keluar dan melihatku yang basah kuyup. “Astaga Binta. Kamu basah kuyup, udara dingin tau.” Omel mama. “Ya tante. Dibilangin kalau masih hujan nggak nurut,” dasar Dera tukang kompor. “Oh gitu. Makasih ya dek. Ayo masuk dulu.” Ucap mamaku. Aku yang memeperhatikan mereka berdua merasa kalau mereka adalah satu jenis orang yang nyebelin. “Nggak usah masuk. Awas ya lo,” bisikku sambil mengepal jari. “Nggak usah repot tante. Lagian sama Binta juga nggak diijini.” Cengengesnya. Dasar ni anak, sontak mamaku langsung menunjukkan air muka yang sangat menakutkan . “Makasih tante, saya buru-buru. Lagian sekarang udah sore. Mari te,” katanya sok manis. “Hati-hati ya,”ucap mamaku. Kemudian aku bergegas masuk rumah. Bersiap untuk mandi, dan makan siang yang sebenarnya makan sore. Singkat kata, hari ini penuh dengan kejadian aneh dan tak terduga dari seorang Dera.
To be continued ,,
Gaess,, maaf kalo kata² nya sedikit berbelit,, maklum cuma penulis amatir :vv lets enjoy it!
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKunjungi Game Mania 87 Pusat Game Terlengkap di Indonesia
BalasHapus